Oleh: Nur Maulidiyah | 17 Februari, 2009

Fenomena Ponari, ada apa ini?


imagesssebetulnya  kemarin sudah nulis tapi kehapus..

saya melihat heboh ponari jadi inget mpok nori maaf ngaco..mpok nari

Setidaknya ada 3 hal yang menyebabkan fenomena dukun cilik ini begitu membuat masyarakat berduyun-duyun

1.Orang miskin dilarang sakit

yah..banyak orang yg sakit tapi tidak bisa berobat juga menjadi salah satu faktor masyarakat lebih percaya pada pengobatan bahkan percaya dengan batu .

2.Tradisi instan

entah kenapa banyak masyarakat yang suka dengan yang instan tanpa proses danmenjalankan kaidah kausalitas (sebab akibat dengan benar)

3. Degradasi akidah

Kepercayaan terhadap kesembuhan berasal dari Allah nampaknya mulai mereduksi . Padahal Allah sajalah yang memberi kesembuhan bagi siapa saja yang dikehendaki . Walau banyak yang menyangkal bahwa berobat ke ponari bukan berarti tidak percaya kepada Allah. Tapi bukankah kebanyakan dari mereka berfikir kalo batu itu dicelup ponari baru bisa sembuh. Atau klo gak pake batu yg itu ya gak bisa sembuh

3 sebab di atas tidak lain tidak bukan terjadi karena

1.Kapitalisasi kesehatan

di negri kita Indonesia raya gemah ripah loh jinawi yang amat kaya dengan potensi alam maupun laut. Tidak cukup itu rakyatnya pun diperas dengan pajak, tapi alangkah ironi APBN nya lebih banyak dibuat untuk membayar bunga hutang dan menambal utang bank2 ribawi. Dan kekayaannya lebih dipilih dijual pada perusahaan 2 asing milih sang tuan penjajah amerika dan konco2nya

Rasulullah saw. bersabda: Manusia berserikat dalam tiga hal: air, hutan, dan energi. (HR Abu Dawud)

Padahal penduduk jamrud khatulistiwa ini sebagia besar adalah seorang muslim yang seharusnya menerapkan aturan Islam

dan bukankah seharusnya para pemimpin muslim itu juga tahu kalo seharusnya mereka memberikan kesehatan murah pada rakyatnya. Karena dalam aturan slam pemimpin bertanggung jawab terhadap setiap kepala yang dipimpinnya termasuk dalam hal kesehatan.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrâd, Ibn Majah dan Tirmidzi).

Dalam hadis ini kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukkan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi.

Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw. bersabda:

اْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari).

2. Tradisi instan akibat media instan

Media massa begitu menanamkan betul tradisi instan mulai dari jadi idola instan sampe sinetron yg menggambarkan seorang gadis miskin yang baik hati tidak afdhol kalo nanti tidak menjadi kaya secara instan entah karena mendadak ada pangeran kaya atau karena tertukar ternyata anak orang kaya . Atau tradisi instan paranaormal yang mewabah di masyarakat

3. Degradasi aqidah

kalo dirunut sampe urut dan menghilangkan semua benang kusut…diusut-usut ternyata

degradasi aqidah umatIslam saat ini , salah satunya disebabkan oleh pendidikan yang sekuler..yang tidak menanamkan aqidah Islam sejak dini

Jelas sangat berbeda dengan apa yang dicontohkan Rasulullah dan para khalifah sesudah beliau, pendidikan dalam Negara Islam mengutamakan penanaman Aqidah Islam secara kuat terlebih dahulu (sangat berbeza dengan sekarang yg dicekoki dengan setumpuk buku sains tapi setelah keluar kelas lupa )

fenomena ponari ‘si dukun cilik’ jangan sampe terulang lagi,,,,


Responses

  1. Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
    Saya setuju dengan pendapat ini. Dan sumber dari terjadinya ini semua adalah kurangnya ilmu agama masyarakat Islam kita. Bukankah mencari ilmu Tauhid dan syariat adalah wajib (fardhu ain) bagi semua muslim? (Dan insya Allah, hak terhadap ilmu itu bukan hanya milik akademisi, ustaz maupun kyai. Kitapun sebagai orang awam, Insya Allah akan memperolehnya dengan izin Allah).
    Marilah kita semua memulai penanaman nilai2 Islam dari keluarga kita masing2. Orang tua bertanggung jawab terhadap anak2nya, so, bagaimana orang tua akan menanamkan nilai2 Islam kalau dia sendiri tidak memiliki itu? Saatnya kita para orang tua dengan kerendahan hati dan membuang ego, untuk mulai menggali nilai2 agama sendiri sesuai tuntuan Allah dan Rasulnya, Muhammad SAW. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk belajar. Mendatangi majelis2 agama, membaca al qur’an, hadits2 shahih, buku2 agama ataupun bertanya pada ustaz.
    Kita mengaku Islam, otomatis wajib percaya Qur’an dan Hadits. Bukannya percaya pada acara2 tv yg makin menyesatkan.
    Kita semua sudah macam bukan orang islam, mencari kebenaran bukan dari sumbernya.
    Semoga kita diberi hidayah dan petunjuk oleh Allah SWT. Mari kita berupaya, sekeras2 nya, seperti kerasnya kita berusaha mencari sesuap nasi untuk keluarga kita, barulah kemudian tawakkal. amin

  2. iya…kasihan rakyat qta (termasuk saya)
    klo mau ke dokter berfikir beberapa kali

  3. ya..ya…seTubuh!!

    Umat isLam itu seTubuH..!!

    1 sakit mua sakit.1rusak,yg lain kena imbasnya.

    Hayuk,Sowdara,,ajak umat terapkan Syari’ah n kHilafah.Demi kemashLahatan Qt mua.

    JAngan sampe poNari2 lain makin banyak,makin menjangkiti,makin mlemahkn aQidah umat.
    (tp yg salah bukan poNari deh..? Tp salahnya sistem sekulerisme n ajudan2nya.Ya khaan..?!)

    ALLAHUAKBAR !!!
    La izZata iLLa bilIslam,
    wa La isLAma illa bisSyari’ah,
    wa La syari’ata illa bidDaulah khilafah RAsyidah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: