Oleh: Nur Maulidiyah | 13 Oktober, 2010

TIPS mendapat beasiswa Australia


Beasiswa ini tergolong baru untuk Indonesia. Untuk pertama kali beasiswa ini diberikan kepada 22 orang penerima dari Indonesia pada tahun 2007. Seperti diklaim di websitenya, ALA merupakan beasiswa dengan kompetisi ketat di tingkat regional. Penentuan keputusan final tidak terjadi di Jakarta tetapi di Canberra, tempat ratusan kandidat diperbandingkan sebelum diberi beasiswa.

Seperti namanya, beasiswa ini memang disediakan untuk pemimpin dan calon pemimpin masa depan di kawasan Asia Pasifik. ALA memberikan beasiswa penuh kepada penerimanya untuk studi tingkat master dan doktor di beberapa negara, umumnya Australia. Lembar fakta tentang beasiswa ini bisa dilihat di websitenya pada ALA scholarship fact sheet.

Ketika mendengar beasiswa ini pertama kali dari seorang kawan, saya langsung tertarik. Sayapun langsung menyiapkan segala persyaratannya. Ada beberapa hal yang penting yaitu:

1. Bukti kewarganegaraan (passport, ktp atau akte kelahiran)
2. Surat penerimaan penuh (tanpa syarat) dari universitas di Australia untuk studi master atau doktor yang diinginkan.
3. Salinan ijasah (S1 dan atau S2) dan terjemahannya yang dilegalisir
4. Salinan transkrip akademik dan terjemahannya yang dilegalisir
5. Salinan bukti prestasi akademik (menang lomba, penghargaan, dll)
6. IELTS (bukti kemampuan Bahasa Inggris)
7. Referensi dari tiga orang yang berbeda (di sini ditampilkan salah satu saja)
8. CV dan List of publication.
9. Melengkapi formulir aplikasi.

Selain itu, beasiswa ini juga mensyaratkan IELTS minimal 6,5. Hal ini juga secara tidak langsung menjadi syarat wajib sesuai dengan ketentuan no. 2 di atas. Dalam hal ini, jika menginginkan jurusan yang memerlukan nilai Bahasa Inggris tinggi, seperti Hukum, maka syarat IELTS otomatis menjadi lebih tinggi lagi. Di University of Wollongong, misalnya, syarat IELTS untuk PhD di bidang hukum adalah 7.0.

Syukurlah saya bisa memenuhi syarat tersebut di atas, termasuk mendapatkan surat penerimaan dari Unversity of Wollongong untuk studi PhD di bidang Aspek Teknis/Geodetis Hukum Laut. Proses mendapatkan surat penerimaan ini tidak sulit, cukup mengisi formulir yang bisa didownload di websitenya, melengkapi dengan peryaratan lain dan menghubungi profesor yang mau menjadi supervisor. Saya termasuk beruntung karena telah menjalin kontak yang baik dengan orang-orang University of Wollongong sebelumnya. Jika pun tidak, hal ini bisa dilakukan lewat internet. Saya kira tidak terlalu sulit.

Singkat kata, saya lengkapi persyaratannya dan memasukkan aplikasi secara online melalui website Online Australian Scholarship Information System (OASIS). Link menuju website ini ada di website ALA juga. Yang menarik adalah bahwa proses melengkapi dokumen beasiswa ini bisa dilakukan secara bertahap. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan registrasi dengan email yang diinginkan. Jika pengisian aplikasi belum selesai suatu waktu maka bisa dilanjutkan pada waktu yang berbeda. Tentu saja ini memerlukan proses login dan logout untuk menjaga keamanan informasi yang sudah dimasukkan.

Maka demikianlah, saya melengkapi satu demi satu persyaratan yang diminta. Semua syarat saya konversi menjadi PDF, termasuk tiga referensi dari Prof. Chris Rizos (UNSW, pembimbing S2), Dr. Clive Schofield (UoW, pembimbing S2) dan Subaryono, PhD (UGM, ketua jurusan tempat saya bekerja). Saya beruntung mendapatkan dukungan penuh dari ketiga orang penting ini. Persyaratan lain seperti ijasah dan transkrip serta piagam penghargaan saya scan dan jadikan PDF untuk selanjutnya diupload. OASIS menyediakan fasilitas untuk upload semua dokumen pernyerta lengkap dengan checklist-nya. Kalau cukup hati-hati, semestinya seorang pelamar tidak akan mengalami kekurangan syarat karena sistem akan membantu meneliti persyaratan yang belum dipenuhi/dilengkapi. Jika persyaratan belum lengkap maka aplikasi tidak bisa di-submit.

Finalisasi aplikasi paling lambat tanggal 31 Juli 2007 dan saya berhasil menyelesaikannya seminggu sebelum itu. Kebetulan saya memilki beberapa tugas lain sehingga tidak ingin terganggu karenanya. Selanjutnya saya bisa melupakan ALA dan konsentrasi dengan pekerjaan lain.

Berbeda dengan ALA tahun lalu, kali ini ada seleksi berupa wawancara. Kalau tahun lalu seseorang terpilih sebagai penerima ALA hanya karena berkas yang diserahkan, kali ini ada proses wawancara untuk menentukan keputusan final. Untuk Indonesia, wawancara diadakan di Jakarta untuk sekitar 47 kandidat yang memenuhi syarat. Dari 47 kandidat ini akan direkomendasikan sekitar 30 orang untuk seleksi lebih lanjut di Canberra. Namun demikian, seleksi di Canberra akan dilakukan tertutup dan tanpa kehadiran kandidat. Selanjutnya di akhir Oktober atau awal November, hasilnya akan disampaikan kepada kandidat. Menurut informasi dalam wawancara, Indonesia akan mendapatkan setidaknya 20 beasiswa ALA.

Saya termasuk satu dari 47 orang yang lolos ke tahap wawancara. Pada tanggal 10 September 2007, wawancara dilakukan di Hotel Four Seasons Jakarta. Karena saya berstatus sebagai dosen UGM yang tinggal di Jogja (walaupun kenyataannya saya sedang di Jakarta), panitia menyediakan segala sesuatunya untuk saya termasuk tiket pesawat PP, penginapan semalam di Hotel Manhattan, transportasi darat dan perdiem selama sehari. Sangat lumayan. Barangkali inilah yang menjadi penanda kalau ALA memang sangat prestisius.

Jam 10.00 pagi tanggal 10 September 2007 saya mulai mengikuti wawancara di sebuah ruangan di Hotel Four Season lantai dua. Ini sedikit molor dari jadual yang semula direncanakan pukul 09.45. Pewawancaranya adalah panel yang terdiri dari tiga orang Australia yaitu dua orang perempuan dari AusAID dan satu lelaki dari kedutaan Australia untuk Indonesia. Seperti layaknya wawancara dengan bule umumnya, suasana sangat bersahabat jauh dari intimidasi. Ketua tim yaitu seorang perempuan dari AusAID memulai dengan memperkenalkan diri termasuk dua rekan lainnya. Saya sangat terkesan dengan kesopanannya dan cara dia memperlakukan saya sebagai interviewee. Sama sekali tidak ada kesan dia yang penting dan saya yang memerlukan. Model wawancara seperti ini semestinya ditiru juga oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Oh ya, saya sengaja tidak menyebutkan nama ketiga pewawancara tersebut dalam tulisan ini karena suatu alasan.

Pertanyaan pertama adalah tentang pekerjaan. Saya ditanya di mana bekerja dan bergerak di bidang apa pekerjaan saya itu. Proses bertanya dan menjawab seperti ngobrol biasa sehingga saya sendiri lupa kalau sedang diwawancarai. Ada guyon, ada bercanda juga. Tertawa dan tersenyum tidak dilarang dalam wawancara ini. Inti dari wawancara ini menurut saya adalah pendefinisian leadership menurut kandidat dan bagaimana kandidat terlibat dalam leadership di masa lalu, di masa kini dan di masa yang akan datang. Ada juga pertanyaan tentang pencapaian yang paling dibanggakan. Tentu saja saya menjawab diterbitkannya buku saya berjudul “Batas Maritim Antarnegara” merupakan pencapaian yang paling membanggakan seraya mengeluarkan satu contoh buku kepada pewawancara. Nampaknya ini memberi kesan positif. Saya pun kemudian bercerita tentang isi buku itu yang kebetulan terkait erat dengan proposal doktor saya. Pewawancara dari Kedutaan Australia rupanya menaruh perhatian yang cukup serius pada permasalahan batas maritim Indonesia dan Australia sehingga diskusi menjadi sangat menarik. Saya kebetulan memang menyimak dengan baik permasalahan yang terjadi antarkedua negara, termasuk isu pelanggaran batas, isu Pulau Pasir dan sebagainya. Saya rasa beliau menangkap kesan positif dari jawaban saya.

Petanyaan selajutnya adalah seputar topik penelitian saya untuk program doktor nantinya. Pertanyaan pentingnya adalah seberapa siap saya dengan topik itu (ditandai dengan karya yang sudah dilakukan) dan seberapa penting topik tersebut untuk Indonesia. Batas maritim tentu saja merupakan topik penting bagi Indonesia yang berbatasan dengan 10 negara tetangga dan belum menuntaskan kesemua batas maritim tersebut.

Satu pertanyaan penting lain yang diajukan adalah bagaimana saya bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah di masa depan dengan keahlian saya ini. Saya kemudian menceritakan skenario untuk pengajaran batas maritim di kampus termasuk memperkuat penelitian di bidang tersebut. Yang terpenting, saya akan meningkatkan publikasi ilmiah maupun populer di bidang batas maritim sehingga terbaca oleh pengambil keputusan. Selanjutnya saya juga menceritakan kemungkinan saya untuk masuk dalam birokrasi atau setidaknya tim ahli pendukung kebijakan pemerintah misalnya Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan.

Saya juga menjelaskan bahwa hal ini bukanlah obsesi yang terlalu optimis mengingat saya memang telah mempublikasikan banyak tulisan dalam kurun waktu 3 tahun. Tujuh puluh judul tulisan dalam waktu tiga tahun tentu saja bukan sesuatu yang sederhana. Hal ini saya sampaikan tidak dalam rangka menyombongkan diri tetapi semata-mata mendukung jawaban saya dengan data dan pencapaian yang sudah ada sehingga tidak terkesan asal bunyi.

Demikianlah, wawancara berlangsung menarik dan saya sendiri puas dengan prosesnya. Menurut saya, semua pertanyaan terjawab dengan baik dan nampaknya juga memuaskan pewawancara. Saya tidak akan mengatakan saya pasti diterima, tetapi setidaknya saya telah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Apapun hasilnya saya akan terima dengan kepuasan dan perasaan menang. Diterima ataupun tidak, saya tetap bangga pernah menjadi kandidat ALA.

Sumber:
I Made Andi Arsana Personal Blog


Responses

  1. i want it

  2. 2. Surat penerimaan penuh (tanpa syarat) dari universitas di Australia untuk studi master atau doktor yang diinginkan.

    Maksudnya sudah harus diterima oleh universitas baru mencari beasiswa??

  3. iya donk, informasi beasiswa ke australianya??
    kalau lewat kedutaan bgm?mohon infonya…ke noer_2184@yahoo.com

  4. Mau ih kuliah kesana??

  5. kalau beasiswa kuliah ke australia tahun untuk s1 ada tidak ya? mohon infonya ke giofanny.tan@gmail.com terimakasih🙂

  6. Mohon maaf Om, saya masih mahasiswa S1 Hukum, kebetulan ingin meneruskan di Australia untuk mengambil hukum bisnis. Apabila om bersedia membantu saya, mohon infonya ya om. Email aku arjanalawyer@gmail.com
    Terimakasih banyak om🙂

  7. terima kasih atas informasinya,,namun saya tidak menemukan di bagian mana saya harus upload semua dokumen yang dibutuhkan,.,,
    mohon infonya ..
    terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: