Oleh: Nur Maulidiyah | 20 April, 2012

Kartini Berjuang Agar Wanita Sekolah, Bukan untuk Meninggalkan Rumah


Dari Gelap Menuju Cahaya

Bicara  bulan April, kita akan sering mendengar sosok Ibu kita Kartini . Masih belum lekang dalam pikiran saya, lagu ibu kita Kartini  bahkan note-note pianonya sampai sekarang . Pahlawan yang namanya tak lekang masa  di saat idola remaja perempuan saat ini kebanyakan artis, penyanyi Idol, girlband atau boyband Korea. Dan idola ibu-ibu adalah artis sinetron.

Ya, Kartini adalah sosok yang teringat di benak karena ia memperjuangkan agar wanita memperoleh pendidikan, mendapatkan sekolah. Karena memang d tangan wanitalah sekolah pertama bagi generasi selanjutnya. Dari Gelap Menuju Cahaya, adalah cita beliau.

Tetapi kini nama Kartini dicatut untk meperjuangkkan ide-ide kebebasan yang jauh dari apa yang diperjuangkan kartini. Ide itu bernama Keadilan dan kesetaraan gender, yang menuntut wanita ramai-ramai keluar dari rumah , sama dengan laki-laki  dan memperoleh kebebasannya walau akhirnya melahirkan perempuan-perempuan yang mengumbar auratnya demi eksistensi dan beberapa ide yang justru mengeluarkan wanita dari fitrahnya dengan merubah hukum Allah seperti soal warisan , imam, thalaq, dan lain-lain.

Atas nama perjuangan Kartini, saat ini para wanita justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide Barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan.

Memang pada awalnya Kartini menjadikan Barat sebagai panutan dan kiblat utk melepaskan diri dari kungkungan adat. “Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir” (Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900).

Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran Barat, Kartini mencoba mencari jawaban. Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak Kartini.

Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang belum selesai diterjemahkan seluruh Al Quran ke dalam bahasa Jawa oleh Kyai Sholeh Darat (sebagai guru ngaji Kartini) sang Kyai meninggal dunia.

Andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al Quran) maka tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan
ajarannya. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap
ajaran Islam. Pada mulanya beliau adalah sosok paling keras menentang poligami. Tetapi setelah mengenal ajaran Islam, beliau mau menerimanya.

Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.

Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi seruan Surat Al Baqarah ayat 193 dan seruan dalam surat Al Baqarah ayat 257. Allah berfirman:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya telah mendoronganya untuk merubah diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Allah.

Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan
Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya.
Seperti apa yang ditulis Kartini dalam suratnya kepada Ny.Abendanon, (27 Oktober 1902).

“…, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri
menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?”

Memang boleh wanita berkiprah di publik maupun bekerja tetapi tidak boleh melalaikan tugasnya yang utama, yang fitrah sebagai istri dan pendidik generasi . Jangan sampai masa-masa emas justru diserahkan didik oleh selain ibunya. Dan saa ia dewasa kita hanya terpongah dan bertanya, kenapa anakku menjadi seperti ini?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: