Oleh: Nur Maulidiyah | 13 Juni, 2015

Belajar dari Kasus Rohingya, Harus Ada yang Berani!


http://www.theguardian.com/world/2014/mar/10/central-african-republic-christian-militias-revenge#img-1Belajar dari Kasus Rohingya, Harus Ada yang Berani!

Di salah satu sudut, anak-anak bermain ayunan dan perosotan, sementara yang lain bermain komedi putar.

Sesekali terdengar jeritan anak-anak perempuan yang diayun terlalu tinggi rekan-rekannya, dan juga suara tangis anak yang berebutan naik tangga arena permainan.

Tidak jauh dari lokasi permainan anak-anak tersebut, seorang wanita berusia 50-an tahun terlihat berbicara akrab dengan seorang gadis belasan tahun. Tampak mereka saling mencubit pipi dan kemudian berpelukan.

Setelah didekati, ternyata mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda. Sang wanita, yang mengaku bernama Nabawiah, ternyata warga lokal yang rumahnya tidak jauh dari kamp pengungsi.

Sementara lawan bicara, Sajidah Begum (16 tahun), adalah pengungsi etnis Rohingya yang mengaku hidup sebatang kara.

Meski berbicara dalam bahasa yang berbeda, mereka berdua tampak saling mengerti, ibarat seorang ibu dengan anak gadisnya yang bisu.

Dengan mata berkaca-kaca, Nabawiah menceritakan awal perkenalan mereka, yaitu hari yang sama ketika Sajidah dan sekitar 900 pengungsi Rohingya dan Bangladesh diselamatkan oleh nelayan Aceh Timur, pertengahan Mei lalu.

Berita tentang pengungsi dari Myanmar yang Nabawiah pun mengaku tidak tahu di mana letak persis negara itu, segera menyebar di antara warga lokal dan mereka pun berbondong-bondong memberi pertolongan.

Kontak pandangan pertama antara Nabawiah dan Sajidah terjadi saat ia mengintip dari balik kaca untuk melihat kondisi para pengungsi yang ada di bangunan bekas pelelangan ikan.

Begitu pandangan mereka beradu, Sajidah pun langsung menangis histeris dan membuat Nabawiah kebingungan.

“Saya kemudian menyadari bahwa ternyata ia menangis histeris melihat saya yang katanya mirip ibunya,” ungkap Nabawiah sambil menahan air mata, sementara mata Sajidah pun sudah tampak berlinang, meski tidak sampai menetes.

Sejak itulah, Nabawiah rutin menemui Sajidah di kamp pengungsian, ibarat seorang ibu yang menjenguk anaknya ke arena perkemahan bersama rombongan sekolah.

“Saya ingin mengadopsi dia menjadi anak saya, tapi saya sadar bahwa itu tidak mungkin karena tidak diizinkan pemerintah dan prosesnya juga pasti sulit,” ucapnya.

Begitulah sepenggal ‘drama’ dari pengungsian Rohingya di Aceh yang dilansir antaranews (http://www.antaranews.com/berita/499674/kisah-persahabatan-warga-aceh-dan-pengungsi-rohingya). Mengharukan, kisah nyata  bukan fiksi ala drama Korea.

Bantuan kemanusiaan mengalir deras kepada saudara-saudara kita pengungsi Rohingya yang ada di Aceh. Luar biasa, penggalangan dana di Taiwan, juga mengalir deras. Ternyata banyak yang peduli , ada yang karena kemanusiaan , ada yang karena kesamaan aqidah.

Bertahun-tahun terombang-ambing dalam penderitaan, sudah ratusan ribu yang terbunuh. Bahkan wanita dan anak2 yang jadi korban. Ditolak di sana -sini. Atas nama kemanusiaan pun tidak ada negara yang berani menolong. Aktifis kemanusiaan peraih nobel diam. Alasannya karena bukan warga kami ! Sudah bertahun-tahun yang lalu menjerit karena genosida. Dibakar , dibunuh.
sampai akhirnya ada yang berani , pemerintah Aceh. Barulah Negara yang lain berbondong2 ikut menolong.

Saya pribadi tahu tentang rohingya beberapa tahun yang lalu dari al-Islam (buletin Hizbut Tahrir) dan seminar-seminarnya. Hizbut Tahrir menawarkan solusi pada dunia, agar ada negara yang berani melindungi mereka, Negara yang menjadi induk bagi kaum Muslimin. Ya! agar ad segera khilafah Islamiyah. Selain Rohingya masih ad pembantaian di Afrika tengah yang sampai sekarang belum ada yang berani menyentuh seperti yang dilansir aljzeera (http://www.aljazeera.com/news/africa/2015/01/un-muslims-ethnically-cleansed-car-2015196546788288.html) dan Guardian (http://www.theguardian.com/world/2014/mar/10/central-african-republic-christian-militias-revenge) muslim di Afrika tengah dibersihkan, laporan trakhir 2014. hile 130,000 to 145,000 berkurang  10,000 di  Desember dan di Februari 2015 tinggal 900. Ada perempuan dan anak-anak Palestina, Suriah yang juga menjerit menjdi janda dan yatim . Adakah yang berani?


Responses

  1. Memang keberanian itu saat ini semakin langka di tengah umat ini..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: