Dari Gelap Menuju Cahaya

Bicara  bulan April, kita akan sering mendengar sosok Ibu kita Kartini . Masih belum lekang dalam pikiran saya, lagu ibu kita Kartini  bahkan note-note pianonya sampai sekarang . Pahlawan yang namanya tak lekang masa  di saat idola remaja perempuan saat ini kebanyakan artis, penyanyi Idol, girlband atau boyband Korea. Dan idola ibu-ibu adalah artis sinetron.

Ya, Kartini adalah sosok yang teringat di benak karena ia memperjuangkan agar wanita memperoleh pendidikan, mendapatkan sekolah. Karena memang d tangan wanitalah sekolah pertama bagi generasi selanjutnya. Dari Gelap Menuju Cahaya, adalah cita beliau.

Tetapi kini nama Kartini dicatut untk meperjuangkkan ide-ide kebebasan yang jauh dari apa yang diperjuangkan kartini. Ide itu bernama Keadilan dan kesetaraan gender, yang menuntut wanita ramai-ramai keluar dari rumah , sama dengan laki-laki  dan memperoleh kebebasannya walau akhirnya melahirkan perempuan-perempuan yang mengumbar auratnya demi eksistensi dan beberapa ide yang justru mengeluarkan wanita dari fitrahnya dengan merubah hukum Allah seperti soal warisan , imam, thalaq, dan lain-lain.

Atas nama perjuangan Kartini, saat ini para wanita justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide Barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan.

Memang pada awalnya Kartini menjadikan Barat sebagai panutan dan kiblat utk melepaskan diri dari kungkungan adat. “Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir” (Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900).

Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran Barat, Kartini mencoba mencari jawaban. Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak Kartini.

Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang belum selesai diterjemahkan seluruh Al Quran ke dalam bahasa Jawa oleh Kyai Sholeh Darat (sebagai guru ngaji Kartini) sang Kyai meninggal dunia.

Andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al Quran) maka tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan
ajarannya. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap
ajaran Islam. Pada mulanya beliau adalah sosok paling keras menentang poligami. Tetapi setelah mengenal ajaran Islam, beliau mau menerimanya.

Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.

Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi seruan Surat Al Baqarah ayat 193 dan seruan dalam surat Al Baqarah ayat 257. Allah berfirman:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya telah mendoronganya untuk merubah diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Allah.

Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan
Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya.
Seperti apa yang ditulis Kartini dalam suratnya kepada Ny.Abendanon, (27 Oktober 1902).

“…, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri
menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?”

Memang boleh wanita berkiprah di publik maupun bekerja tetapi tidak boleh melalaikan tugasnya yang utama, yang fitrah sebagai istri dan pendidik generasi . Jangan sampai masa-masa emas justru diserahkan didik oleh selain ibunya. Dan saa ia dewasa kita hanya terpongah dan bertanya, kenapa anakku menjadi seperti ini?

Oleh: Nur Maulidiyah | 9 April, 2012

Sudah Siapkah Jika Ajal Menjemput?



Handphoneku berbunyi  , ada sms masuk mengabarkan  berita duka yang mengiris hati. Kabar tentang meninggalnya seorang teman perempuan  di Malang.  Membaca namanya, aku pun memutar kembali memoriku. Aku mungkin pernah bertemu dengan beliau di beberapa acara majelis ta’lim. Tetapi kami tidak dekat. Walau begitu , aku merasa sangat dekat dengannya dan merasakan kesedihan yang sangat. Bagaimana tidak,  sang akhwat meninggal dengan kondisi penyakit yang tidak tetangani karena keterbatasan dana -teman-teman dekatnya pun tidak tahu- . Karena sang akhwat dan keluarga tidak mau merepotkan orang lain.

Sang akhwat , sebut saja mbak Zahra, meninggalkan 3 anaknya yang masih balita. Dan 1 yang masih menyusui . Mbak  Zahra yang selama ini dikenal tanpa keluhan, mengagetkan banyak orang  dengan kepergiannya yang begitu mendadak.  Begitulah ajal, saat datang maka tidak ada seorangpun yang mampu menolak nya. Tidak bisa dimajukan dan diundurkan. Keesokan harinya setelah mendapat sms, saya yang saat itu sedang di rumah ibu mertua, kembali ke Malang untuk mengetahui kondisinya lebih lanjut. Begitu miris, karena  ternyata penyakit yang diidap mbak Zahra sudah lama . Dan tidak mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai karena mahalnya biaya operasi dan obat-obatan.

Lain lagi dengan kisah salah satu teman di twitter, yang menjemput ajal di usia yng sangat belia. Dia menikah di usia 19 tahun dan langsung diberikan anugerah keturunnan. Di usianya yang masih 2 3  tahun putranya sudah 3. Masih kecil-kecil,  cantik dan ganteng. Berita kematiannya menjadi pukulan bagi teman-temaannya.  Saya yang belum mengenalnya lebih dekat pun merasa kehilangan.Ia terakhir  update  twitter  14 jam yang lalu dan 4 jam setelah ia mengupdate  twitternya malaikat maut sudah menjmputnya. Anisa, Gadis tegar itu sakit sejak beberapa  bulan yang lalu, dan dirawat di rumah sakit akhir-akhir ini. Sampai akhirnya menjemput ajal beberapa jam yang lalu.

Betul, kalau ajal sudah datang tidak ada yang bisa memajukan dan memundurkan. Kisah yag sama menimpa penulis muda poduktif Nurul F  Huda. Dan ummu 13 anak, Ustadzah Yoyoh Yusro yang meninggal dalam kecelakaan.

Sebab Kematian: Berakhirnya Ajal

Begitulah ajal , ia merupakan  akhir kehidupan seseorang atau habisnya umur seseorang. Artinya, saat ajal seseorang itu tiba, saat itu pulalah kematian datang menjemputnya.

Ayat-ayat al-Quran yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah menyatakan secara pasti bahwa Allah SWT sajalah Zat Yang menghidupkan dan mematikan. Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ

Allah menghidupkan dan mematikan (QS. Ali Imran [3]: 156).

Al-Quran juga menegaskan hal ini pada banyak ayat lainnya (lihat QS. al-Baqarah [2]: 73, at-Tawbah [9]: 116, Yunus [10]: 56, al-Hajj [22]: 6, al-Mu’minun [23]: 80, al-Hadid [57]: 2).

Allah SWT telah menetapkan ajal bagi tiap-tiap umat maupun individu. Kematian, yaitu datangnya ajal, telah ditentukan waktunya sebagai suatu ketetapan dari Allah yang tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan. Allah SWT berfirman:

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya (QS. al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)

Bahkan,  jika orang berupaya menghindar dari kematian—dengan jalan membentengi diri dari apa saja yang dia sangka menjadi sebab datangnya kematian seakan dia berlindung dalam benteng yang tinggi lagi sangat kokoh sekalipun—maka hal itu tidak akan bisa menghindarkannya dari kematian. Sebab, semua yang disangka sebagai sebab maut itu baik berupa sakit, perang, dsb, sejatinya bukanlah sebab maut. Semua itu hanyalah kondisi yang didalamnya kadang terjadi kematian, namun kadang juga tidak.

Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa satu-satunya sebab kematian adalah habisnya ajal, yaitu habisnya jangka waktu yang ditetapkan untuk manusia; atau datangnya ajal, yaitu datangnya batas akhir umur manusia. Ketika itulah, Allah SWT mematikannya dengan mengutus Malaikat Maut untuk mencabut ruh dari jasad. (QS. as-Sajdah [32]: 11).

Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki. Ajal dan umur tiap orang telah ditetapkan oleh Allah. Allah SWT juga menegaskan tidak akan memajukan atau menangguhkan ajal seseorang. Allah tidak akan menambah atau mengurangi jatah umur seseorang. Dalam QS al-Munafiqun [63]: 11, Allah mengungkapkan dengan kata lan yang merupakan penafian selama-lamanya (Lihat pula QS. Fathir [35]: 11).

Datangnya ajal adalah pasti, tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Berjihad, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dsb, tidak akan menyegerakan ajal atau mengurangi umur. Begitu pula berdiam diri, tidak berjihad, tidak berdakwah, tidak mengoreksi penguasa, tidak beramar makruf nahi mungkar, dan tidak melakukan perbuatan yang disangka berisiko mendatangkan kematian, sesungguhnya tidak akan bisa memundurkan kematian dan tidak akan memperpanjang umur. Semua itu jelas dan tegas dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran seperti di atas.

Memang, ada sabda Nabi saw. sebagai berikut:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa saja yang suka dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya hendaklah ia bersilaturahmi. (HR al-Bukhari, Muslim, Abu dan Ahmad).

Juga ada beberapa hadis semisalnya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pertambahan umur bukanlah penundaan ajal. Yang bertambah tidak lain adalah keberkahan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Bisa juga maknanya adalah bukan pertambahan umur biologis, tetapi umur sosiologis, yakni peninggalan, jejak atau atsar al-‘umri-nya yang terus mendatangkan manfaat dan pahala setelah kematian biologisnya. Abu Darda menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يُؤَخِرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا، وَإِنَّمَا زِيَادَةُ الْعُمْرِ بِالذُّرِيَّةِ الصَّالِحَةِ يَرْزُقُهَا الْعَبْدَ، فَيَدْعُوْنَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ، فَيَلْحِقَهُ دُعَاؤُهُمْ فِيْ قَبْرِهِ، فَذَلِكَ زِيَادَةُ الْعُمْرِ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan (kematian) seseorang jika telah datang ajalnya. Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan salih yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. Itulah pertambahan umur. (HR Ibn Abi Hatim dikutip oleh al-Hafizh Ibn Katsir di dalam tafsirnya QS. Fathir [35] : 11).

Selain anak salih, hadis lain menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan sunnah hasanah juga akan memperpanjang umur sosiologis seseorang. Pelakunya, meski telah mati secara biologis, seakan ia tetap hidup dan beramal dengan semua itu serta mendapat pahala karenanya.

Dengan demikian, tidak ada gunanya lari dari maut. Maut juga tidak selayaknya ditakuti karena pasti datangnya. Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri menyongsong datangnya maut dan memelihara diri supaya maut itu datang dalam kondisi kita sedang menunaikan ketaatan sehingga kita mendapatkan husnul khatimah. Inilah sikap cerdas dan upaya yang berdaya guna. Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak dan paling baik persiapannya dalam menyongsong datangnya maut.

Ibnu Umar meriwayatkan, Rasul saw. pernah ditanya, siapakah Mukmin yang paling cerdas? Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِهِمْ أُوْلَئِكَ مِنْ اْلأَكْيَاسِ

Mereka yang paling banyak mengingat maut dan paling baik persiapannya untuk menghadapi maut itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang termasuk Mukmin yang paling cerdas. (HR Ibn Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan ath-Thabrani).

Jadi sudah siapkah saat ajal kita datang?

Dari berbagai sumber

Oleh: Nur Maulidiyah | 29 Februari, 2012

Sharing Tentang Masalah Wanita di Berbagai Belahan Dunia


Assalammu’alaykum warohmatullah 🙂

Update blog kali ini lebih cepat dari yang dijanjikan sebelumnya, rajin.com :B . Kali ini saya ingin mengangkat masalah wanita di berbagai belahan dunia, tentu saja kita tidak sedang mencari masalah saja,tetapi juga mencari solusinya.

Di Taiwan

Menurut pengamatan saya sebulan terakhir tinggal di sini dan berinteraksi dengan warga indo di Taiwan, maupun warga Taiwan*walau cuma sedikit,gara-gara tidabisa mandarin #:-S *. Ada beberapa yang menonjol:

Wanita di Taiwan sibuk bekerja sama dengan suaminya, bahkan banyak di antara mereka yang jam kerjanya sangat full. Walhasil mengurus rumah tangga,suami,anak diserahkan ke pembantu *rata-rata TKW dari Indonesia*. Pernah saat di Masjid saya bertemu dengan TKW yang diantar majikannya mendaftar universitas terbuka.Dari pembicaraan mereka,majikan sangat khawatir , pembantunya keluar untuk ujian saja.Kata untuk ujian saja saya tebali karena itu berarti cuma beberapa jam keluar karena universitas terbuka untuk TKW dilaksanakan online dan sangat fleksible. Si majikan mengatakan dia harus tahu jam berapa sampai jam berapa ujiannya,karena dia harus izin dari kerjaannya. Padahal waktu ujian adalah hari minggu.Ini adalah salah satu contoh kasus saja, beberapa juga demikian. Dan tentu ini dikarenakan tuntutan biaya hidup yang tinggi dan pemikiran kesetaraan gender.
Angka Kelahiran yang turun. Tingkat kesuburan yang rendah ini mengakibatkan jumlah bayi yang dilahirkan menurun setiap tahunnya di Taiwan dan menjadikan Taiwan sebagai negara dengan angka kelahiran terendah di dunia.Pemerintah Taiwan sangat khawatir akan krisis ini. Menteri Kesehatan Taiwan, Yaung Chih-Liang bahkan mengatakan hal ini sebagai “Keadaan Masyarakat yang Tragis”. Yaung juga menegaskan rendahnya angka kelahiran akan menurunkan angka pekerja di masa depan. Dan mengakibatkan beban pemerintah untuk mengurus lansia bertambah. Kesulitan para anak untuk mengurus orang tua yang sudah lanjut usia bisa meningkatkan angka bunuh diri. Bukan hanya masalah ekonomi yang menjadi faktor penurunan angka kelahiran ini. Di masyakarat Taiwan juga berkembang persepsi baru dalam hal standar kehidupan. Sebuah universitas yang melakukan survey terhadap 100 orang yang berusia antara 20-40 tahun menyebutkan, sepertiga dari mereka tidak punya rencana untuk memiliki anak. Hal ini untuk menghindari kebangkrutan dan kebebasan kehidupan mereka.
Kenakalan anak yang meningkat karena ibu yang bekerja. Ini seperti yang saya ceritakan di pos Islam di Taiwan.
Itu dulu sementara sekilas dari pengamatan saya, untuk kekerasan pada wanita juga banyak terjadi pada TKW yang berasal dari luar taiwan.Miris Bukan?
INDONESIA

Seperti kita ketahui bersama banyak sekali permasalahan yang ada di Indonesia yang menimpa wanita mulai dari kekerasan fisik,pemerkosaan, dan tindakan kekerasan lain.Juga wanita Indonesia banyak yang terpaksa bekerja karena wanita dan seluruh rakyat berada di bawah garis kemiskin padahal negara kaya.Hanya kekayaan alamnya dijual *diberikan* kepada Asing, karena pemerintah menganut kebebasan.Berikut videonya

[tube]http://www.youtube.com/watch?v=kVi5ryUnZnA&feature=share[/tube]

sedangkan di Negara lain, termasuk barat, juga banyak persoalan wanita.Berikut Linknya

selengkapnya di blog baru saya klik di sini

Oleh: Nur Maulidiyah | 28 Februari, 2012

Muhasabah Diri: Menelaah Langkah , Luruskan niat


Assalammualaykum, 🙂
InsyaAllah seminggu sekali saya akan mengaktifkan blog ini setelah sekian lama sering bolong-bolong dalam mengupdate. Tujuan Awal blog ini ada untuk sharing dan berbagi pengalaman hidup, hikmah,ilmu sehingga kita semua menjadi orang-orang yang diridhoi Allah.

Jika Muhammad assad menulis notes from Qatar , dan akhirnya menjadi sebuah buku. Saya ingin mencoba menulis hikmah dan apa saja yang saya temui di sini (Taiwan). Kali ini saya ingin berbagi tentang Menelaah langkah.
Apa maksudnya?

Begini, kita sering sekali di dalam hidup mengikuti roda yang berputar, seakan menjadi orang yang paling sibuk di dunia. So hectic!!
Dan saat itu, kita merasa dunia begitu cepat berputar dan tiba-tiba kita merasa sudah menua.Banyak sudah yang kita lakukan, tetapi kita jarang menelaah langkah, mentadaburi diri kita sendiri, atau kalau bahasa Umar bin Khattab Menghisab diri sendiri.
Menelaah langkah, menghisab diri adalah hal yang sangat penting karena dengan itu, kita bisa mengetahui apakah kita mengerjakan hal-hal yang diridhoi Allah, apakah kita melakukan banyak dosa, apakah hidup kita semakin hari semakin baik atau justru semakin buruk dengan standar Syariah Islam tentu saja bukan standar manusia atau hawa nafsu sendiri.

Dan tentu karena ini adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Islam

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan”)
selengkapnya di http://nurmaulid.tk/2012/02/menelaah-langkah-menata-niat/


Ibu, sudahkah kita memperhatikan apa yang dimakan dan diminum anak-anak kita di dalam rumah? Bagaimana dengan di luar rumah? apa ibu sudah sediakan makanan yang halal dan thayyib utuk suami dan anak-anak? Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori